3 Kepercayaan Anak Muda Seputar Investasi yang Salah

 

22 Des (1)

Sumber : www.google.com

 

Bintang.com, Jakarta Ada banyak alasan buat anak-anak muda yang akhirnya mendorong mereka untuk berwirausaha. Salah satunya, dengan memiliki bisnis sendiri mereka bisa bebas 'menaruh' uang mereka di mana saja. Mereka juga bebas untuk menentukan "mau seberapa kaya dan sukses."     

 

Tapi, karena saking bebasnya, banyak anak muda yang bingung dan akhirnya salah saat 'menanamkan' uangnya agar bisa 'berkembang biak.' Menurut Aj Agrawa, kontributor Inc Asean, ada tiga hal yang dipercaya pengusaha muda seputar investasi. Sayangnya, apa yang dipercaya mereka itu salah dan justru menjauhkan mereka dari pintu gerbang kesuksesan. Agar kamu tidak ikut-ikutan terjerumus, sebaiknya simak pembahasannya berikut ini.

 

Bisnis saya adalah tempat terbaik untuk berinvestasi. Inc Asean menulis, banyak anak muda yang merasa bisnis merekalah tempat terbaik untuk menginvestasikan uang mereka. Padahal, mereka juga harus 'menyebar' uangnya di tempat lain, agar 'berkembang biak.' Lagi pula, tidak aman kalau kamu menaruh seluruh uangmu di satu tempat. Bayangkan saja jika bisnisnya collapse. Seluruh uangnya akan musnah dan sulit untuk memperbaiki kondisi keuangannya.

 

Tapi, kalau kamu sudah 'menyebar' uangmu, salah satu bisnis ambruk tak akan jadi masalah. Karena kamu masih punya uang di beberapa tempat lain. Jadi, pastikan kamu tidak menginvestasikan uangmu pada bisnismu saja, ya.

 

Tidak akan butuh uang banyak untuk pensiun. Kamu mungkin masih muda dan merasa keuanganmu masih 'gagah.' Tapi, ketika kamu sudah pensiun nanti, belum tentu kamu masih punya pendapatan tetap setiap bulan. Tidak ada yang tahu tentang masa depan. Karena itu, sebaiknya kamu berinvestasi untuk masa tua agar masa pensiunmu tidak susah.

 

Merasa jumlah kekayaan bersih lebih dari jumlah sebenarnya. "Santai, saya punya Rp 12 miliar." Padahal, angka itu bukan kekayaan bersihnya. Dilansir dari Inc Asean, anak-anak muda cenderung melebih-lebihkan sesuatu. Bukannya bohong, tapi merasa hanya tidak bisa menghitung jumlah kekayaan bersih mereka. Jadi, bukan berarti saham ekuitas perusahaanmu langsung otomatis menambahkan jumlah kekayaan bersih pribadimu. Jadi, kamu harus memastikan berapa jumlah uang yang benar-benar kamu punya. Bukan uang milik perusahaan yang telah kamu dirikan.

 

Sumber : www.bintang.com